Saturday, 27 October 2012

Mengkurbankan nafsu di Hari Raya Idul Adha


Hari Raya Idul Adha 1433 H baru saja dilalui. Gema takbir berkumandang dimana-mana. Entah berapa hewan kurban yang disembelih atas nama Allah swt diseluruh penjuru dunia. setidaknya, hal ini akan terus berlangsung hingga tiga hari kedepan stelah hari tasyrik usai.

Beragam ceramah maupun tausiyah telah disampaikan berkaitan dengan sejarah idul adha terutama dengan teologi kurbannya. Dalam berbagai keterangan bahkan disebutkan bagaimana kisah heriok Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dalam pembuktiannya terhadap ketauhidan mereka kepada Allah swt, Tuhan semesta alam.

Kisah dimana keimanan dan pengabdian sangat dijunjung tinggi. Menembus sekat-sekat nafsu dunia seorang manusia untuk mendekatkan diri dan meletakkan titah Tuhan diatas segala-galanya. Suatu capaian prestasi keimanan dan ketaqwaan manusia yang sangat patut diteladani. Lalu, sampai dimana kita semua mampu menyesuaikan diri menjadi manusia seperti itu dalam kehidupan sekarang?

Kehidupan memang akan terus berjalan mengikuti alur waktu hingga mencapai batasnya. Sungguh menakjubkan bahwa dalam perjalanannya kehidupan tidak pernah menghasilkan peristiwa yang sama persis. Akan tetapi, kita dituntut untuk dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung dari rangkaian peristiwa dalam sejarah. Dan di bulan Dzulhijjah ini pun, kita dituntut mengambil nilai-nilai itu, tentang bagaimana meletakkan titah Tuhan diatas segala-galanya, meletakkan keyakinan diatas rasionalitas kita sekarang.

Allah swt mengajarkan nilai-nilai tersebut melalui instrumen haji dan kurban. Apa yang dikatakan akal jika kita berputar-putar mengelilingi bangunan berbentuk kubus, menciumi batu hitam, berlarian bolak-balik tanpa ada hasil yang kita dapat, melempar batu yang entah apa gunanya, dan berpanas-panasan dengan pakaian terbuka di siang bolong? Bisakah akal merangkai alasan untuk menjawab itu? Mampukan rasionalitas menunjukkan wibawanya dalam rangkaian ibadah haji? Kita sepakat, tidak!

Bagaimana pula dengan kurban? jutaan binatang mati dan dikuliti tanpa ampun, mungkin hanya pada saat itu konsumsi daging diseluruh dunia meningkat tajam. Kalau saja pada waktu itu Allah swt menghendaki Nabi Ibrahim as menyembelih anaknya Nabi Ismail as, mungkin hingga sat ini kasus pelanggaran HAM berat tak henti-hentinya dikumandangkan orang-orang.

Sebagai manusia, kita tidak saja butuh sesuatu yang bersifat material, akan tetapi juga yang immaterial. Untuk menemukan kebermaknaan hidup. Makna kedekatan dan pengabdian diri kepada Tuhan yang menciptakan kita, Allah swt.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Laa ilaaha illallahu allahu akbar
Allahu akbar wa lillahilkhamdu...

No comments:

Rekan Blog